Skip to main content
thoughts

Realitas Pahit: Frustasi dengan Mindset & Sistem di Indonesia

WR

Wahyu Ridiansyah

Website Author

Sebagai seorang software engineer, saya terbiasa hidup dalam dunia yang biner: 0 atau 1, error atau success, rusak atau jalan. Ada kepuasan tersendiri ketika sebuah sistem berjalan sesuai logika yang dirancang. Namun, begitu saya menutup laptop dan melangkah keluar rumah, saya dipaksa menghadapi realitas sosial di Indonesia yang logikanya seringkali null pointer exception.

Sistem di sini bukan hanya buggy, tapi macet total.

Rasanya sesak. Bukan sesak karena polusi Jakarta yang memang sudah akut, tapi sesak di dada melihat bagaimana kita sebagai bangsa seolah terjebak dalam infinite loop kebodohan yang kita ciptakan sendiri. Kita punya sumber daya manusia yang brilian, alam yang kaya, tapi kita macet. Stagnan.

Kenapa rasanya sesak? Karena kita tahu kita bisa lebih baik dari ini, tapi kita dirantai oleh budaya dan sistem yang kita rapalkan sendiri setiap hari.

Mentalitas "Kepiting" yang Mendarah Daging

Pernah lihat sekumpulan kepiting di dalam ember? Kalau ada satu yang berusaha naik untuk keluar, teman-temannya yang di bawah bukannya membantu mendorong, malah menarik kakinya sampai jatuh lagi. "Kalau aku nggak bisa keluar, kamu juga nggak boleh."

Di Indonesia, ini bukan sekadar metafora biologi. Ini budaya kerja dan tetangga.

Coba lihat di kantor. Ketika ada karyawan yang pulang tepat waktu karena pekerjaannya sudah selesai lebih efisien, apa yang terjadi? Bukan pujian, tapi, "Ih, teng-go banget sih lo." Ketika ada tetangga yang baru beli mobil karena bisnisnya lancar, apa bisik-bisik yang terdengar? "Ngapain sih kerja rajin-rajin? Paling hasil ngepet atau nipu."

Kalimat-kalimat sinis ini adalah mekanisme pertahanan diri. Mereka merasa insecure dengan pencapaian orang lain, sehingga alih-alih ikut berlari mengejar, mereka memilih menjegal pelari terdepan supaya sama-sama lambat. Kritik yang dilontarkan jarang sekali konstruktif; tujuannya seringkali hanya untuk memastikan "kalau gue menderita di lubang ini, lo juga harus nemenin gue."

Egoisme dan Mantra "Yang Penting Gue Selamet"

Coba perhatikan jalanan kita di jam sibuk. Itu adalah laboratorium psikologi massal yang paling jujur.

Lampu merah diterobos. Jalur Transjakarta diokupasi. Trotoar, hak pejalan kaki yang sudah sempit itu, dijarah oleh motor yang tidak sabaran atau pedagang yang (katanya) "cuma cari makan".

Mentalitasnya sederhana dan primitif: "Gue buru-buru, lo minggir." "Gue mau cepat, peduli setan lo telat." "Orang lain juga ngelanggar kok, kenapa gue enggak?"

Ini adalah cerminan ego yang overdosis. Kita kehilangan kemampuan untuk menunda kepuasan (delayed gratification) dan kehilangan empati terhadap ruang publik. Kita memperlakukan fasilitas umum seperti barang jarahan pasca perang. Hak asasi manusia dan kenyamanan bersama dinomoduakan demi kenyamanan ego pribadi yang hanya berdurasi 5 detik.

Kita teriak-teriak minta pemerintah bersih dari korupsi, tapi kita sendiri masih nyogok polisi biar nggak ditilang. Kita maki-maki pejabat yang serakah, tapi kita sendiri nyerobot antrian di minimarket hanya karena kasir sebelah kosong sedikit.

Feodalisme Gaya Baru: Pejabat adalah Raja

Masalah lain yang tak kalah busuk adalah sisa-sisa mentalitas feodal. Di negara maju, pejabat negara disebut civil servant—pelayan publik. Gajinya dari pajak kita, tugasnya melayani kita.

Di Indonesia? Pejabat adalah Raja Kecil.

Lihat bagaimana iring-iringan pejabat lewat di jalan tol. Sirine meraung-raung, memaksa rakyat jelata menepi, padahal tidak ada urgensi darurat. Lihat bagaimana di kantor kelurahan, warga yang butuh KTP harus membungkuk-bungkuk sopan sementara petugasnya main HP dengan wajah masam.

Relasi kuasanya terbalik. Kita yang menggaji (lewat pajak), tapi kita yang mengemis pelayanan. Dan selamanya kita membiarkan ini terjadi dengan sikap "ewuh pakewuh" (sungkan), korupsi tidak akan pernah mati. Korupsi tumbuh subur di tanah feodal di mana kritik dianggap pembangkangan.

Sistem yang Memaksa Kita Menjadi "Jahat" (The Prisoner's Dilemma)

Namun, menyalahkan individu semata juga tidak adil dan naif. Kita harus akui: menjadi warga negara yang "lurus" di Indonesia itu capeknya minta ampun. Bahkan seringkali, menjadi jujur itu merugikan.

Ini adalah situasi klasik Prisoner's Dilemma. Jika semua orang antri tertib, semua diuntungkan. Tapi jika satu orang menyerobot dan tidak dihukum, orang yang tertib akan merasa bodoh dan dirugikan.

Ingin mengurus dokumen secara legal? Siapkan waktu berhari-hari, dipimpong sana-sini, dan disuguhi wajah petugas yang masam. Ingin bisnis bersih? Siap-siap kalah tender sama yang berani main "bawah meja" atau punya "orang dalam".

Sistem kita seringkali dirancang sedemikian rupa sehingga "jalan pintas" bukan lagi pilihan, melainkan satu-satunya cara rasional untuk bertahan hidup. Birokrasi yang berbelit dan hukum yang tumpul ke atas tajam ke bawah menciptakan apatisme massal.

"Buat apa gue taat pajak kalau duitnya dikorup?" pekik hati kecil kita. "Buat apa gue buang sampah pada tempatnya kalau truk sampahnya buang ke sungai?"

Dan akhirnya, apatisme itu melahirkan pembenaran untuk ikut-ikutan curang. Kita menjadi monster yang kita benci, hanya agar bisa survive.

Sebuah Refleksi yang Menyakitkan

Tulisan ini saya buat bukan untuk menyebar pesimisme, atau sekadar ranting tanpa arah. Ini adalah garbage collection untuk pikiran saya yang penuh sampah frustasi.

Saya sadar, saya tidak bisa mengubah sistem negara ini dalam semalam. Saya tidak bisa tiba-tiba membuat semua orang di jalanan tertib berlalu lintas. Mungkin butuh dua atau tiga generasi untuk mencuci mentalitas ini.

Tapi, saya bisa mulai dengan refactoring diri sendiri. Saya bisa memilih untuk menahan diri tidak membunyikan klakson saat macet, meski yang lain bising. Saya bisa memilih untuk antri dengan sabar meski loket sebelah kosong karena diserobot. Saya bisa memilih untuk ikut senang saat teman saya sukses, dan bertanya "gimana caranya?" alih-alih mencibir. Saya bisa menolak menyogok, meski itu berarti urusan saya jadi lebih lama.

Indonesia butuh perbaikan radikal, bukan kosmetik. Dan perbaikan itu butuh stamina mental yang panjang. Kita harus berani menjadi "anomali" yang tetap waras di tengah sistem yang gila. Meskipun rasanya sepi, bodoh, dan seringkali menyakitkan.

Karena kalau orang waras diam semua dan ikut gila, lantas siapa yang tersisa untuk memperbaiki negeri ini?

Next Article

Pixel-Perfect Client-Side PDF Generation with React